Laman

Selasa, 16 Agustus 2011

Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)




Kejadian traumatik merupakan peristiwa kehidupan yang dapat mengenai setiap orang. Dalam setiap kejadian traumatik yang terjadi, selalu ada implikasi kesehatan jiwa ,baik dalam kasus akibat bencana alam, misalnya gempa bumi, tsunami, angin ribut, atau pada bencana yang diakibatkan oleh manusia, misalnya perang, serangan teroris, kekerasan interpersonal. Dampak dari kejadian traumatik yang dialami oleh setiap orang tidaklah sama. Anak-anak lebih rentan dan sensitif terhadap dampak dari kejadian trauma yang dialaminya. Kejadian traumatik yang dialami bila tidak dapat diatasi dengan baik dapat menimbulkan suatu kumpulan gejala yang berkaitan dengan kecemasan, kompleksitas gangguan kecemasan ini dikenal sebagai gangguan stres pasca trauma (Posttraumatic Stress Disorder/ PTSD). 
Gangguan stress pasca trauma merupakan sindrom kecemasan, labilitas otonomik, dan mengalami kilas balik dari pengalaman yang amat pedih setelah stres fisik maupun emosi ynag melampaui batas ketahanan orang biasa. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM IV-TR), PTSD didefinisikan sebagai suatu kejadian atau beberapa kejadian trauma yang dialami atau disaksikan secara langsung oleh seseorang berupa kematian atau ancaman kematian, atau cidera serius, atau ancaman terhadap integritas fisik atas diri seseorang. Kejadian tersebut harus menciptakan ketakutan yang ekstrem, horror, atau rasa tidak berdaya.
Peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik pada umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut (Jaffe, Segal, & Dumke, 2005):
1.     Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected)
2.     Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi / kejadian demikian (The person was unprepared)
3.     Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening)

... any overwhelming life experience can trigger PTSD, especially if the event is perceived as unpredictable and uncontrollable (Smith & Segal. 2008).

... pengalaman hidup apapun yang terlalu "mengguncang" dapat memicu PTSD, terutama jika peristiwa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang tidak dapat diduga dan dikendalikan / dikontrol (Smith & Segal. 2008).

Smith & Segal menyebutkan peristiwa traumatik yang dapat mengarah kepada munculnya PTSD termasuk:

  • Perang (War)
  • Pemerkosaan (Rape)
  • Bencana alam (Natural disasters)
  • Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash)
  • Penculikan (Kidnapping)
  • Penyerangan fisik (Violent assault)
  • Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse)
  • Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids)

Ciri-ciri Gangguan

Kriteria diagnosis PTSD menurut Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV Text Revision (DSM IV TR) yaitu:
A.    Kejadian traumatic
1.  Satu atau banyak pristiwa yang membuat seseorang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian yang berupa ancaman kematian, cidera yang serius atau ancaman terhadap integritas fisik dirinya sendiri atau orang lain.
2. Tanggapan individu terhadap pengalaman tersebut dengan ketakutan,  kengerian, tau ketidakberdayaan yang sangat kuat.
B.     Mengalami kembali satu atau lebih gejala di bawah ini:
1.  Teringat kembali akan kejadian trauma menyedihkan yang dialaminya  dan bersifat mengganggu (bisa berupa gambaran, pikiran, persepsi)
2.   Mimpi buruk yang berulang tentang peristiwa trauma yang dialaminya (yang mencemaskan).
3.   Mengalami kilas balik trauma (merasa seakan kejadian trauma yang dialaminya terjadi kembali, hal ini bisa terjadi karena ilusi, haluinasinya)
4.    Kecemasan psikologis dan fisik bersamaan dengan hal yang mengingatkan terhadap kejadian trauma (kenangan akan peristiwa trauma)
C.   Menghindari secara persisten stimulus yang berkaitan dengan trauma dan mematikan perasaan/ tidak berespon terhadap suatu hal (sebelum trauma masih berespon). Gejala ini meliputi tiga atau lebih hal di bawah ini:
1.      Kemampuan untuk menghindari pikiran, perasaan, percakapan yang
berhubungan dengan kejadian trauma.
2.      Kemampuan menghindari aktivitas, tempat, orang yang dapat membangkitkan kembali kenangan akan trauma yang dialaminya.
3.      Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari peristiwa trauma yang dialaminya
4.      Ketertarikan dan minat untuk berpartisipasi dalam peristiwa penting berkurang
5.      Merasa terasing dari orang di sekitarnya
6.      Terbatasnya rentang emosi ( contoh: tidak dapa merasakan cinta)
7.      Perasaan bahwa masa depannya suram
D.    Gejala hiperarousal/ sangat sensitif yang persisten meliputi dua atau lebih  gejala di bawah ini:
1.      Sulit untuk memulai tidur/ sulit mempeertahankannya
2.      Sulit berkonsentrasi
3.      Mudah kesal dan meledak-ledak emosinya
4.      Hypervigilance (kewaspadaan yang berlebihan)
5.      Reaksi kaget yang berlebihan
E.     Durasi dari gangguan ( gejala di kriteria B, C, D) lebih dari sebulan
F.   Gangguan/ gejala di atas ini menyebabkan kecemasan dan gangguan fungsional dalam berhubungan sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya
Selain itu, secara spesifikasi diagnosis PTSD dapat diidentifikasi sebagai:
1)      akut, bila gejala berlangsung satu sampai tiga bulan
2)      kronis, bila gejala berlangsung lebih dari tiga buan
3)      Awal gejala / onset yang tertunda bila gejala dimulai sedikitnya enam bulan setelah kejadian traumatik/stressor.

          Menurut DSM, anak-anak dapat menderita PTSD, seringkali merupakan respos karena menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga atau mengalami penyiksaan fisik. Gambaran klinis PTSD pada anak-anak tampaknya berbeda dengan orang dewasa. Gangguan tidur dengan mimpi buruk tentang monster umum terjadi, sebagaimana juga perubahan prilaku. Sebagai contoh, seorang anak yang semula periang menjadi pendiam dan menarik diri atau seorang anak yang semula pendiam menjadi lebih kasar dan agresif. Beberapa anak yang mengalami trauma mulai berpikir bahwa mereka tidak akan hidup hingga mencapai usia dewasa. Beberapa anak kehilangan ketrampilan perkembangan yang sudah dikuasai, seperti berbicara atau toilet training. Anak-anak jauh lebih sulit berbicara tentang perasaan mereka disbanding orang dewasa, suatu hal yang sangat penting untuk diingat bila terdapat kemungkinan penyiksaan fisik atau seksual.

Faktor Biopsikososiokultural

1.      Faktor Biologi
Penelitian pada orang kembar dan keluarga menunjukkan kemungkinan diathesis genetik pada PTSD. Terlebih lagi, trauma dapat mengaktivasi sistem noradrenergik, meningkatkan level norepineflin sehingga membuat orang yang bersangkutan lebih mudah terkejut dan lebih cepat mengekspresikan emosi dibandingkan kondisi normal. Konsisten dengan pandangan ini adalah penemuan bahwa level norepineflin lebih tinggi pada penderita PTSD dibanding pada kelompok kontrol. Selain itu, menstimulasi sistem noradrenergik menyebabkan serangan panik pada 70 %  dan kilas balik pada 40 % penderita PTSD; tidak ada satupun dari peserta kelompok kontrol yang mengalami hal semacam itu. Terakhir, terdapat bukti mengenai meningkatnya sensitivitas reseptor-reseptor noradrenergik pada penderita PTSD.
2.      Faktor Psikologis
Para teoris belajar berasumsi bahwa PTSD terjadi karena pengkondisian klasik terhadap rasa takut. Seorang wanita yang pernah diperkosa, contohnya dapat merasa takut untuk berjalan di lingkungan tertentu (CS) karena diperkosa disana (UCS). Berdasarkan rasa takut yang dikondisikan secara klasik tersebut terjadi penghindaran, yang secara negatif dikuatkan oleh berkurangnya rasa takut yang dihasilkan oleh ketidakberadaan dalam CS. PTSD merupakan contoh utama dalam teori dua faktor mengenai avoidance learning yang diajukan bertahun-tahun oleh Mowrer. Terdapat sekumpulan bukti yang mendukung pandangan ini dan berkaitan dengan teori-teori kognitif behavioral yang menekankan hilangnya kendali dan prediktabilitas yang dirasakan orang-orang yang menderita PTSD.
Suatu teori psikodinamika yang diajukan oleh Horowitz menyatakan bahwa ingatan tentang kejadian traumatik muncul secara konstan dalam pikiran seseorang dan sangat menyakitkan sehingga secara sadar mereka mensupresinya (melalui distraksi, contohnya) atau merepresinya. Orang yang bersangkutan diyakini mengalami semacam perjuangan internal untuk mengintegrasikan trauma ke dalam keyakinannya tentang dirinya dan dunia agar dapat menerimanya secara masuk akal.
3.      Faktor Sosial
Dukungan sosial yang tidak adekuat dari keluarga dan lingkungan meningkatkan risiko perkembangan PTSD setelah anak mengalami kejadian traumatik.
4.      Faktor Kultural
Sedikit data tentang perbedaan suku, tetapi menunjukkan bahwa di antara mereka yang di rujuk ke klinik, anak afrika amerika lebih mungkin mempunyai riwayat PTSD bila dibanding dengan amerika-eropa.
5.      Faktor risiko
Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan stres pasca trauma, antara lain :
  • Seberapa berat dan dekatnya trauma yang dialaminya. Semakin berat trauma yang dialami dan semakin dekat ia berada saat kejadian semakin meningkatkan risiko PTSD.
  •  Durasi trauma yang dialamiya. Semakin lama/kronik seseorang mengalami kejadian trauma semakin berisiko berkembang menjadi PTSD ( misalnya: kekerasan pada anak di rumah).
  • Banyaknya trauma yang dialami. Trauma yang multipel lebih berisiko menjadi PTSD. 
  • Pelaku kejadian trauma. Semakin dekat hubungan antara pelaku dan korban (misalnya: kekerasan anak yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri) semakin berisiko menjadi PTSD. 
  •  Kejadian trauma yang sangat interpersonal seperti, perkosaan. 
  •  Jenis kelamin: anak dan remaja perempuan lebih berisiko dibandingkan laki-laki. 
  •  Kondisi sosialekonomi yang rendah (kaum minoritas) berisiko lebih tinggi akibat dari tingginya angka kekerasan di daerah tempat ia tinggal. 
  •  Usia : PTSD dapat terjadi pada semua golongan usia tetapi anak-anak dan usia tua (>60 tahun) merupakan kelompok usia yang lebih rentan mengalami PTSD. Anak-anak memiliki kebutuhan dan kerentanan khusus jika dibandingkan dengan orang dewasa, teruama karena masih ketergantungan dengan orang lain, kemampuan fisik dan intelektual yang sedang berkembang, serta kurangnya pengalaman hidup dalam memecahkan berbagai persoalan sehingga dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. 
  • Seseorang yang memiliki gangguan psikiatri lainnya seperti: depresi, fobia sosial, gangguan kecemasan. 
  • Memiliki penyakit organik yang berat dan kronis seperti, kanker 
  • Pasien yang berada di bawah pengaruh anestesi akan tetapi memperoleh kembali kesadarannya saat dilakukannya operasi. 
  • Seseorang yang tidak berpengalaman dan tidak memperoleh pelatihan dalam menghadapi bencana lebih berisiko dibandingkan mereka yang mendapatkannya (seperti: polisi, petugas pemadam kebakaran, petugas paramedik 
  • Hidup di tempat pengungsian ( misalnya: sedang ada peperangan atau konflik di daerahnya). 
  • Kurangnya dukungan sosial baik dari keluarga maupun lingkungan.
  •  
Perspektif
Terdapat beberapa sudut pandang aliran psikologi yang memandang kasus PTSD ini, perspektif yang memandang ganguan tersebut antara lain :
1.      Perspektif  Psikoanalisis
Dalam perspektif ini memandang bahwa PTSD disebabkan pengalaman masa lalu yang tanpa disadari individu telah membuat individu menjadi trauma dan cemas berlebihan. Dengan kata lain, ada konflik – konflik tak sadar yang tetap tinggal tersembunyi dan merembes ke alam ketidaksadaran.
2.      Perspektif Kognitif
Perspektif  kognitif berasumsi bahwa adanya cara berpikir yang terdistorsi dan disfungsional, bisa meliputi beberapa hal seperti prediksi berlebihan terhadap rasa takut, keyakinan yang self – defeating atau irasional, sensitivitas berlebihan terhadap ancaman, sensitivitas kecemasan, salah mengatribusikan sinyal – sinyal tubuh, serta self – efficacy yang rendah.
3.      Perspektif berdasarkan pendekatan behavioral
Etiologi terjadinya PTSD dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan behavioral dengan kerangka pikir conditioning. Dalam perspektif behavioral melalui teori classical conditioning, pengalaman traumatis berfungsi sebagai stimulus tak terkondisi yang dipasangkan dengan stimulus netral seperti sesuatu yang dilihat, suara, dan bau yang diasosiasikan dengan gambaran trauma. Pemaparan terhadap stimuli yang sama atau hampir sama memunculkan kecemasan yang diasosiasikan dengan PTSD.
4.      Perspektif Islami
Dalam perspektif Islami,
Terjemahan Q.S. Hud ayat 9-11
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”
Terjemahan Q.S. Al Baqarah ayat 155-156
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".”
     

kasus

Seorang penyanyi berusia 27 tahun dirujuk oleh soerang teman untuk menjalani evaluasi. Delapan bulan sebelumnya, kekasihnya telah menjadi korban penusukan hingga meninggal dalam suatu peristiwa penodongan, sedangkan dia dapat menyelamatkan diri tanpa terluka sedikitpun. Setelah lewat masa berkabung, tampaknya dia telah kembali normal. dia membantu penyelidikan polisi dan secara umum dinilai sebagai saksi ideal. Namun demikian, tidak lama setelah penangkapan tersangka pembunuhan kekasihnya, pasien mulai berulangkali mimpi buruk dan ingatan yang sangat jelas tentang malam terjadinya kejahatan tersebut. Dalam mimpi-mimpinya dia sering melihat darah dan melihat dirinya dikejar oleh orang yang mengancam dan tertutup wajahnya. Siang hari, terutama ketika berjalan sendirian, dia seringkali terhanyut dalam lamunan sehingga lupa kemana akan pergi. Teman-temannya mengamati bahwa dia mulai mudah terkejut dan tampaknya selalu khawatir akan sesuatu. Dia meninggalkan uang kembalian atau barang belanjaannya di toko atau ketika menunggu tidak dapat mengingat apa yang akan dibelinya. Tidurnya mulai gelisah dan pekerjaannya terganggu karena tidak dapat berkonsentrasi. Pelan-pelan dia menarik diri dari teman-temannya dan mulai menghindari pekerjaannya. Dia merasa sangat bersalah atas pembunuhan kekasihnya, walaupun tidak tahu dengan pasti mengapa demikian. (Spitzer dkk., 1981, hlm. 17)

Video Terkait Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)












Penanganan

Sebelum menjalani terapi atau program-program apapun, ada baik nya dilakukan evaluasi psikologis pada anak terlebih dahulu. Tindakan ini untuk memahami kepribadian anak, trauma yang dialami, dan dampak dari trauma tersebut pada dirinya. Evaluasi juga dapat membantu terapis untuk memahami berbagai risiko tambahan dan menemukan kekuatan dari klien. Jika terapi diisyaratkan sebagai proses yang harus dijalani oleh anak, maka perlu konsultasi dengan terapis yang benar-benar berpengalaman dengan kasus anak-anak (bukan dewasa). Hal ini harus sangat diperhatikan karena proses evaluasi dapat dialami sebagai proses yang sangat berat dan dapat menimbulkan trauma sekunder. Setelah dilakukan evaluasi ada dua macam terapi pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita PTSD yaitu, dengan menggunakan psikoterapi dan farmakoterapi. Hasil pengobatan akan lebih efektif jika kedua terapi ini dikombinasikan sehingga tercapai penanganan yang holistik dan komprehensif.

1.      Psikoterapi
Ø  Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Menurut penelitian Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan pendekatan yang paling efektif dalam mengobati anak dengan PTSD. Dalam Cognitive Behavioral Therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi dan menganggu kegiatan-kegiatan penderita PTSD misalnya, pada seorang anak korban kejahatan mungkin akan menyalahkan diri sendiri karena ketidakhati- hatiannya. Prinsip-prinsip behavioral therapy digunakan untuk modifikasi perilaku dan prosesr e-lear ning. Tujuan terapi ini adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang.

Ø  EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing)
EMDR adalah sebuah pendekatan psikoterapi yang bertumpu pada model pemrosesan informasi di dalam otak. Jaringan memori dilihat sebagai landasan yang mendasari patologi sekaligus kesehatan mental, karena jaringan-jaringan memori adalah dasar dari persepsi, sikap dan perilaku kita.Untuk memproses kembali informasi di dalam otak/jaringan memori yang telah ada, EMDR dijalankan dengan melakukan kegiatan fisik yang merangsang aktivasi pemrosesan informasi di dalam otak (dalam konteks EMDR disebut sebagai stimulasi bilateral) melalui indra pengelihatan/pendengaran/perabaan.

Ø  Playtherapy
Playtherapy merupakan cara yang dapat digunakan untuk mengobati PTSD pada anak periode awal / young children. Pada terapi ini bertujuan untuk memahami trauma anak dan memberikan medium untuk berekspresi dalam mengurangi tekanan emosional ynag dialami. Bermain peran, menggambar, bermain dengan boneka atau benda-benda figural dapat dijadikan cara untuk menyesuaikan diri dan memberi kesempatan pada terapis untuk melakukanre-exposure yaitu, membahas peristiwa traumatiknya dalam situasi yang mendukung.
Para ahli juga menyarankan perlunya psikoedukasi pada anak dan keluarganya. Psikoedukasi dimaksudkan memberi pendidikan mengenai gejala- gejala yang ditunjukkan anak dan cara- cara untuk mengatasinya terutama untuk membantu anak mengatasi kecemasannya. Psikoedukasi untuk anggota keluarga terutama orangtua dan pengasuh (termasuk guru) penting karena mereka yang setiap saat berada di dekat anak tersebut. Pengetahuan mereka mengenai reaksi psikotraumatik dan gejala-gejala perilakunya akan mebantu mereka untuk berfungsi efektif dalam menghadapi anak yang sedang bermasalah tanpa memperparah kondisi anak tersebut.
2.      Farmakoterapi
Farmakoterapi merupakan terapi dengan menggunakan obat-obatan. Terapi ini diperlukan untuk menstabilkan zat-zat di otak yang menyebabkan kecemasan, kekhawatiran, dan depresi atau dengan kata lain merupakan terapi simptomatik pada PTSD. Terapi obat ini bukanlah lini pertama dalam penanganan PTSD tetapi dapat dijadikan sebagai pendukung (adjuvan) psikoterapi agar tercapai hasil yang optimal dalam menangani kasus PTSD. Beberapa jenis obat dapat membantu mengatasi PTSD:
1)      Antipsikotik. Untuk mengurangi kecemasan yang parah, susah tidur dan ledakan     emosional.
2)  Antidepresan. Untuk mengatasi gejala depresi dan kecemasan. Dapat juga membantu mengatasi masalah susah tidur dan meningkatkan konsentrasi.
3)      Anti kecemasan. Obat ini juga dapat mengobati perasaan cemas dan stres.
4)   Prazosin. Obat ini telah digunakan selama bertahun-tahun dalam pengobatan hipertensi. Meskipun obat ini tidak secara khusus disetujui untuk pengobatan PTSD, prazosin dapat mengurangi atau menekan mimpi buruk pada banyak penderita PTSD

Ø  Selective seotonin reuptak inhibitors (SSRIs)
SSRIs merupakan obat lini pertama dalam mengatasi gejala cemas, depresi, perilaku menghindar, dan pikiran yang intrusif (mengganggu). Obat ini meningkatkan jumah serotonin dengan cara menginhibisi reuptake serotonin diotak. Obat golongan SSRIs yang disetujui oleh FDA dalam mengatasi gejala depresi pada anak PTSD yakni, Fluoxetine (Prozac). Obat ini digunakan untuk anak usia lebih dari 8 tahun dengan dosis awal 10 mg/ hari selama satu minggu kemudian dapat ditingkatkan sampai 20 mg/hari dan diberikan secara perorang.

Ø  Beta adrenergic blocking agents
Obat yang digunakan golongan ini yakni, Propanolol (Inderal). Obat i ni dapat mengatasi gejala hiperarousal. Dosis untuk anak-anak : 2,5 mg/kg BB/hari.

Ø  Mood stabilizers
Golongan ini dapat membantu mengatasi gejala arousal yang meninggi dan gejala impulsif.
Dosis Carbamazepine (Tegretol) :
ü 6-12 tahun: 100mg/hari peroral untuk initial lalu dapat dinaikkan hingga 100mg/hari, untuk dosis maintenance; 20-30 mg/kg/hari.
ü >12 tahun: samapai kadar di plasma 8-12mcg/ml.
Dosis valporic acid (Depakene, depakote) : 10-15 mg/kg/hari untuk dosis initial dan kemudian dapat ditingkatkan 5-10mg/kg/hari.
3.       Debriefing
Debriefing juga dapat digunakan untuk mengobati traumatik. Meskipun ada banyak kontroversi tentang debriefing baik dalam literatur PTSD umum dan di dalam debriefing yang dipimpin oleh bidan. Cochrane didalam systematic reviews-nya merekomendasi-kan perlu untuk melakukan debriefing pada kasus korban -korban trauma (Rose et al, 2002). Mengenai debriefing oleh bidan, Small gagal menunjukkan secara jelas manfaatnya (Small et al., 2000). Meski begitu, Boyce dan Condon merekomen-dasikan bidan untuk melakukan debriefing pada semua wanita yang berpotensi mengalami kejadian traumatik ketika melahirkan (Boyce & Condon, 2000).
4.      Support Group Therapy dan terapi bicara.
Dalam support group therapy seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang mempunyai pengalaman serupa (misalnya korban bencana tsunami, korban gempa bumi) dimana dalam proses terapi mereka saling menceritakan tentang pengalaman traumatis mereka, kemdian mereka sa ling member penguatan satu sama lain (Swalm, 2005). Sementara itu dalam terapi bicara memperlihatkan bahwa dalam sejumlah studi penelitian dapat membukti -kan bahwa terapi saling berbagi cerita mengenai trauma, mampu memperbaiki kondisi jiwa penderita. Den Gan berbagi, bisa memperingan beban pikiran dan ke -jiwaan yang dipendam. Bertukar cerita membuat merasa senasib, bahkan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Kondisi ini memicu seseorang untuk bangkit dari trauma yang diderita dan melawan kecemasan (A nonim, 2005b).
5.      Pendidikan dan supportive konseling juga merupakan upaya lain untuk mengobati PTSD.
Konselor ahli mem-pertimbangkan pentingnya penderita PTSD (dan keluarganya) untuk mempelajari gejala PTSD dan bermacam treatment (terapi dan pengobatan) yan g cocok untuk PTSD. Walaupun seseorang mem-punyai gejala PTSD dalam waktu lama, langkah pertama yang pada akhirnya dapat ditempuh adalah mengenali gejala dan permasalahannya sehingga dia mengerti apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya (Anonim, 2005b).
6.      Pendekatan di Masa perang
Selama Perang Dunia II para tentara yang “lelah bertempur” seringkali ditangani dengan narkosintesis, yaitu suatu prosedur yang dapat dianggap sebagai katarsis dengan bantuan obat a la Breuer. Tentara di injeksi dengan sodium Pentothal ke dalam pembulu darah, dalam dosis yang cukup untuk menimbulkan rasa kantuk ekstrem. Terapis kemudian menyatakan dengan suara yang meyakinkan bahwa tentara tersebut sedang berada di medan perang, di garis depan. Jika diperlukan dan memungkinkan, terapis menyebutkan situasi peperangan tertentu. Pasien biasanya mulai mengingat, sering kali dengan emosi intens, kejadian-kejadian yang menakutkan yang mungkin telah terlupakan. Seringkali trauma sesungguhnya dihidupkan kembali dan bahkan diperagakan oleh pasien. Seiring pasien secara bertahap kembali ke keadaan sadar, terapis tetap mendorong pembahasan mengenai berbagai kejadian mengerikan dengan harapan bahwa pasien akan menyadari bahwa semua kejadian tersebut adalah masa lalu dan bukan lagi merupakan ancaman. Dengan cara ini diharapkan akan terjadi suatu sintesis atau kemunculan bersam, kengerian masa lalu dengan kehidupan pasien saat ini (Cameroon & Magaret, 1951)
Intervensi sedini mungkin akan menghasilkan terapi yang lebih memuaskan dan akan mencegah berkembangnya stres pasca trauma menjadi gangguan stres pasca trauma Sehingga intervensi sejak dini untuk mengatasinya sangat penting, terutama bagi perkembangan emosional anak. Intervensi tersebut dapat berupa dukungan dari orangtua, guru, teman sekolah dan lingkungan sekitarnya yang dapat menimbulkan perasaan aman dan terlindungi bagi anak-anak.

Referensi

Gerald C. Davison, John M. Neale, Ann M. Kring. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2006. Edisi ke-sembilan
http://medicastore.com/penyakit/3205/Gangguan_Stress_Pasca-Trauma_PTSD.html

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=5&sqi=2&ved=0CDoQFjAE&url=http%3A%2F%2Fjournal.unair.ac.id%2FfilerPDF%2FGangguan%2520Stres%2520Pasca%2520Trauma%2520pada%2520Korban.pdf&rct=j&q=terapi%20debriefing%20untuk%20PTSD&tbs=lr%3Alang_1id&ei=3IFPTqy0AoLIrQeyg_GsAg&usg=AFQjCNH4SqOE8ZIx3ieEXS08BiFdxtz8Tg&cad=rja

http://www.detikhealth.com/read/2011/07/26/134902/1689668/770/post-traumatic-stress-disorder-gangguan-mental-yang-traumatis

http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=575